SELAMAT DATANG DI WEBSITE JURUSAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS HALU OLEO

Pembukaan Launching Website Ilmu Komunikasi

Seminar Produksi Media Humas (27/05/2018)

Sertifikat Akreditas Program Studi Ilmu Komunikasi 2019-2024

Kepala Laboratorium dan Laboran

Team Laboran

Aula FISIP

PROGRAM MINGGU SEHAT UHO

Jumat, 29 Juni 2018

COMING SOON ! COMMUNICATION DAY 2018


Minggu, 10 Juni 2018

SEMINAR POLITIK MEDIA MENJELANG PEMILIHAN GUBERNUR SULTRA 2018

Seminar POLITIK MEDIA dengan tema "kekuatan ekonomi politik media menjelang pemilihan Gubernur Sultra 2018"
Universitas Halu Oleo (UHO) Fakulatas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan  Ilmu Komunikasi dan Jurnalistik, Mengadakan Seminara POLITIK MEDIA dengan tema "Kekuatan Ekonomi Politik Media menjelang pemilihan Gubernur Sultra 2018”, yang dilaksanakan di aula Hotel  Atomi, JLN. Kedondong, pada pukul 12:00 WITA. (02/06/2018).

Seminar ini dihadiri dari beberapa pemateri dari berbagai pimpinan media baik media eletronik, cetak dan media online, Bapak Zakaria Sidik, sebagai pimpinan LPU RRI Kendari dan Bapak M.Djufri Rachim sebagai pimpinan medai Online Sultrakini. Dan dihadiri peserta seminar dari berbagai jurusan di UHO, utamanya dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Jurnalistik.

Seminar ini bertujuan untuk mengatisipasi kecedurungan independensi media dalam pengiklanan dan penginformasian para paslon calon Gubernur Sultra 2018, dan demi menjaga kemurnian independensi atau ketidak berpihakan Media dalam menyiarkan iklan atau informasi berupa berita para calon Gubernur 2018 ini samapi seterusnya.

Pimpinan LPU RRI Bapak Zakaria Sidik menyebutkan bentuk independensi medianya, sebagai media  yang di biayai oleh pemerintah. beliau menyebutkan “dalam menjelang pemilihan Gubernur 2018 ini, ada beberapa calon Gubernur Sultra 2018 meminta menginformasikan dan mengiklankan lebih, tapi kami menolaknya, karena kami lihat hal itu kurang indenpendensi maka kami menolaknya padahal mereka menawarkan dengan bayaran tinggi". (02/06/18).

Kontributor : Hardiki (Mahasiswa Jurnalistik Universitas Halu Oleo)

Kamis, 07 Juni 2018

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI UHO TELAH MELAKSANAKAN TALKSHOW JANGAN MATIKAN RADIOMU!

Foto : Talkshow Jangan Matikan Radiomu
Jurusan Ilmu Komunikasi telah melaksanakan talkshow dengan tema Jangan Matikan Radiomu! Pada tanggal 3 Juni 2018 yang bertempat di Kendari Town Square (K TOZ). Kegiatan ini di hadiri oleh mahasiswa dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo.

Dalam kegiatan ini menghadirkan pembicara dari praktisi radio, Fauzan yang merupakan produser dari The Radio FM Kendari. Beliau memberikan materi seputar sejarah singkat radio, perkembangan dan inovasi radio, serta tantangan-tantangan yang harus dihadipi oleh radio. Tidak hanya Fauzan saja yang menjadi pembicara dalam kegiatan ini tetapi ada juga dua rekannya yang lain yaitu Umay dan Rudi yang ikut berpartisipasi dalam sesi sharing di kegiatan talkshow ini.

Foto : pemberian materi dan coaching clinic dari team The Radio FmM Kendari
Tidak hanya pemberian materi seputar sejarang, Perkembangan, dan tantangan yang dihadapi oleh radio, tetapi di dalam kegiatan ini pemateri/pembicara dari The Radio juga mengadakan coching clinic untuk peserta talkshow yang memiliki minat menjadi penyiar radio. Dan dua orang peserta yakni Dian dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Yopin dari jurusan Jurnalistik menjadi peserta yang beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk ikut di kegiatan coching clinic.

“Dengan adanya talk show ini saya yakin bisa memberi sharing informasi yang lebih luas lagi tentang radio itu punya point of interest, punya hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang informatif, hal-hal yang edukatif” ujar Fauzan produser The Radio FM saat ditanya pendapatnya tentang kegiatan ini.

Di akhir acara terdapat Talkshow Jangan matikan Radiomu! Dihiasi oleh penampilan dari Ruth Medin Hutajlu yang membawakan dua buah lagu untuk menghibur peserta talkshow. Dan kegiatan ini ditutup dengan buka puasa bersama. (AR)

CUACA BURUK MENJADIKAN NELAYAN BERHENTI MELAUT

Foto: Kapal nelayan yang tak berlabuh menangkap ikan akibat cuaca buruk(21/5/18) pagi
Kendari - Cuaca dengan intensitas hujan cukup tinggi pada bulan ramadhan, membuat nelayan TPI ( Tempat Pelelangan Ikan ), Kendari, banyak yang tak melaut. Berhentinya sebagian  nelayan menangkap ikan sudah berjalan hingga dua bulan.

Diprediksi, cuaca normal kembali pada  juli  2018 nanti. Pengakuan  seorang nelayan Tempat Pelelangan Ikan Kendari, gelombang tinggi dan kecepatan angin di peraiaran memaksa dirinya tak melaut. Hal itu juga menjadi alasan nelayan lainnya.

Bukan hanya ikan, harga  kepiting, udang, gurita, dan cumi – cumi, yang ada di tempat pelelangan ikan kini juga telah melonjak tinggi. 

Tinggi gelombang bisa sampai 5 meter dengan kecepatan angin 8 sampai 9 knot/jam.  Dan curah hujan 95 % dengan suhu  -240 C sangat tidak memungkinkan para nelayan untuk mendapatkan tangkapan.

Foto : Info cuaca Badan Meteorologi Klimatologi Geografi Kota Kendari
Para  nelayan yang lain membuat mereka berlabuh dikarenakan mata pencarian mereka hanya itu dan mereka punya keluarga yang harus diberi makan.  Berhentinya nelayan mencari ikan, jelas berdampak kepada harga ikan di pasaran yang terus melambung tinggi. Oleh karena harga ikan yang ada di Tempat Pelelangan Ikan kendari menjadi naik.

 Kenaikan harga pangan yaitu ikan Tempat Pelelangan Ikan kini menjadi perhatian masyarakat kota kendari, bagaimana tidak harga ikan yang biasa murah kini menjadi melonjak tinggi.  Harga ikan yang sebelumnya mencapai  Rp. 15.000 sampai Rp. 20.000 per kilo, kini telah menjadi Rp. 35.000 sampai Rp. 50.000 perkilo.

Jumlah ikan yang nelayan dapatkan kini jauh relative sedikit sehingga menjadikan harga ikan yang semakin naik, seperti ikan cakalang,  ikan bangkumis, ikan layang, ikan  tembang, ikan boto – boto, ikan rumah – rumah, ikan landou, ikan hiu, ikan pari, ikan lure, ikan loba, ikan katombo dan ikan tuna.

Info dari BMKG Kota Kendari bahwa memang pada musim penghujan gelombang laut menjadi naik dari biasanya, Akan tetapi tidak setiap hari. Angin kencang yang terjadi diperairan sebelah utara Australia bisa mencapai diatas 20 knot, sama seperti yang disampaikan nelayan. Sehingga mereka tidak melakukan penangkapan ikan.

Kontributor : Feriyandi Susanto ( Mahasiswa Jurnalistik Universitas Halu Oleo)